Elang Gumilang
begitulah dikenal oleh orang-orang merupakan anak pertama dari tiga
bersaudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir
dari keluarga yang lumayan berada, yaitu ayahnya berprofesi sebagai
kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sejak kecil
orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala sesuatu diperoleh tidak
dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa rezeki itu bukan
berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..
Ketika
duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah
mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak2 SMP
Lain saat lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun
menjadi anak kesayangan guru-gurunya. Begitu pula ketika masuk SMP I
Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor, Elang selalu mendapatkan
rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini mengaku kesuksesan yang
ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan. “Butuh proses dan
kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa
dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri mulai
terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam
hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai
kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya.
Ia pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10
juta untuk modal kuliahnya kelak.
Berjualan
Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai
berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap
hari ia mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik
donat untuk kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata
lumayan juga. Dari hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup
keuntungan Rp 50 ribu. Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan
sembunyi-sembunyiny a ini tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah
dekat UAN (Ujian Akhir Nasional), orang tua menyuruh saya untuk
berhenti berjualan donat. Mereka khawatir kalau kegiatan saya ini
mengganggu ujian akhir,” jelas pria pemenang lomba bahasa sunda tahun
2000 se-kabupaten Bogor ini.
Dilarang
berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan cara
lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas
Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion
se-Jawa, Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi
Ekonomi, Elang juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang
diperoleh dari setiap perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan
sebagai modal kuliah.
Setelah
lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB (Institut
Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB (Sistem
Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang akan
masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah menjuarai
kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa tes.
Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan
uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa
musibah yang dialaminya tersebut. Padahal uang itu rencananya akan
digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya bermodal Rp 1 juta, Elang
tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp 1 juta itu ia
belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat usaha ini,
dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi setelah
berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa
mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per
satu pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu,
Elang memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.
Setelah
tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis apalagi.
Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia akan
gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis
ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu
dikampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat
banyak lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis
yang menggiurkan, ” paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang
menggunakan strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan
modal. Ario Winarsis sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari
Amerika Latin, Ario Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau
yang kaya raya di Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar
rumah, Ario Winarsis selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada
awalnya pengusaha itu tidak memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu
melambaikan tangan setiap hari, pengusaha tembakau itu menemuinya dan
mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu selalu melambaikan tangan setiap
saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu menjawab, “Saya punya
tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar dulu, yang penting
saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban dari pemuda
itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel kepada
pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha
Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di
kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu.
Maka, jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.
Begitupula
Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan lampu
Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah proposal
saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15 juta,”
ucapnya bangga. Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran
uangnya lambat, Elang mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain.
Setelah melihat celah di bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni
jualan minyak goreng ke warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat
kuliah, ia harus membersihkan puluhan jerigen, kemudian diisi minyak
goreng curah, dan dikirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu,
Bogor. Setelah selesai mengirim minyak goreng, ia kembali ke kampus
untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang kembali mengambil jerigen-jerigen
di warung untuk diisi kembali keesokan harinya. Tapi, karena bisnis
minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga mengganggu kuliahnya.
Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya sering ketiduran di
kelas karena kecapain,” kisahnya.
Elang
mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari pada
otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk
minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa
berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang
bisnis yang tidak menggunakan otot.
Setelah
mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga Bahasa
Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak
mau kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya,
ia patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha
itu sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan
untuk mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani
secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri,
pihak Fakultas Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.
Karena
dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan
hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai
marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan,
saya hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya. Bangun
Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak suka
merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu
Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik
keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat
itu ia mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal
saya di IPB hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah
punya, apalagi yang saya cari di dunia ini?” batinnya.
Setelah
lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan
jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak
saat itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang
diberikan oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang
shalat istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah,
dalam tidur saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan
indah di Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang
membuat bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu
yang membuat?” Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi
tersebut. “Saya pun kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia
properti,” ujarnya.
Pengalaman
bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan di
dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai
tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu
membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani
sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang
lebih besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.
Selama
ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya
atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang
terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli.
Padahal di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah.
Apalagi rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai
tempat berteduh dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia
terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah
berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan,
cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk
memiliki rumah,” jelasnya.
Dalam
hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang,
kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan
juga kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang
termiskin dan terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan
pasti akan melakukan sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial
seperti itu, Elang terdorong untuk mendirikan perumahan khusus untuk
orang-orang ekonomi ke bawah. Maka ketika ada peluang mengakuisisi satu
tanah di desa Cinangka kecamatan Ciampea, Elang langsung mengambil
peluang itu. Tapi, karena Elang tidak punya banyak modal, ia mengajak
teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk patungan. Dengan modal
patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat
sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah.
Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar
kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun
satu demi satu mulai berdiri.
Elang
membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe
36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut
ditawarkan Kisaran harga 48 s.d. 55 juta rupiah per unitnya. “Jadi,
hanya dengan DP mulai 1,5 juta s.d. 5,5 juta rupiah dan cicilan Rp 290
ribu/bulan, mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya. Karena
modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya
mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relative murah, pada
tahap awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah,
tapi fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24
jam, angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga
dekat dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi
bawah, kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf
tata usaha (TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.
Sisihkan
10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak
lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin
mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas
nikmatnya itu, dalam setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen
untuk kegiatan amal. “Uang yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT
(Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan) pribadi, dan saya alokasikan untuk
membantu orang-orang miskin dan orang yang kurang modal,” bebernya. Bagi
Elang, materi yang saat ini ia miliki ada hak orang miskin di dalamnya
yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen dari hasil proyeknya,
Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan bahkan tahunan
kepada fakir miskin. Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi
yang paling penting adalah kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski
jumlahnya kecil, tapi jika dilakukan secara rutin, itu lebih baik
daripada banyak tapi tidak rutin.
Elang
sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses
dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan
dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua
anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan
manusia dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia
diberi akal. Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai
berfikir, manusia itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau
dibawa kemana. “Kita hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung
kitanya mau mengisi catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau
mengisi hidup ini dengan sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,”
ucapnya berfilosof. Ketika seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya
mau dibawa kemana, tinggal orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya,
seperti ilmu dan lain sebagainya.
Menjaga
Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan
gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak
singa padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari
peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun
ketika malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi
penjaga Masjid. “Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya
tinggal di Masjid yang berada dekat terminal Bogor. Dari mulai
membersihkan Masjid, sampai mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk
orang-orang yang akan shalat Shubuh, semua saya lakukan,” ujarnya
merendah.
Elang
mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran
yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga
tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam
halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan
tanah. Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah
saya merenung kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah
orang yang mengingat mati,” ujarnya. Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri
Karena Tukang Koran “Ghaib” Elang semakin dikenal khalayak luas ketika
berhasil menjadi juara pertama di ajang lomba wirausaha muda mandiri
yang diadakan oleh sebuah bank belum lama ini. Keikutsertaan Elang dalam
lomba tersebut sebenarnya berkat informasi dari koran yang ia dapatkan
lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?, sebab setelah memberi
koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi padahal sebelumnya ia
berjanji untuk kembali lagi.
Peristiwa
aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah
langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan
mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah
mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya,
karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan
cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya.
Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.
Setelah
selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian tukang
koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu
pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia
tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa
wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan
dan dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang
Bapak yang anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel
Indonesia. Elang merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi
ada orang tinggal di hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi
lain ada orang yang tinggal di jalanan. Akhirnya, pada malam
penganugerahan, tim juri memutuskan Elanglah yang menjadi juaranya.
Padahal kalau diukur secara omset, pendapatannya berbeda jauh dengan
para pengusaha lainnya.
Dari
Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta,
ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu,
terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang
lebih luas. Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang
Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya
berjalan mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali
mengalami hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank.
Sebagai mahasiswa biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk
memberikan modal. Padahal, prospek bisnis properti sangat jelas karena
setiap orang pasti membutuhkan rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda,
susah orang percaya. Apalagi perbankan. Orang bank bilang lebih baik
memberikan ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.
Meski
sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah
semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi
pinjaman, masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau
memberi pinjaman. Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini
sehingga bisa berjalan. Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di
antaranya membentuk organisasi Maestro Muda Indonesia dan membawahi
perusahaan yang mempekerjakan karyawan 100 ribu orang. Motivasi terbesar
Elang dalam meraih impian tersebut adalah ingin menjadi tauladan bagi
generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan meraih kemuliaan dunia
serta akhirat. siapa
sangka pemuda yang baru lulus IPB (Institut Pertanian Bogor) ini adalah
miliarder muda. Omzet perusahaanya kini mencapai Rp 211 miliar. Elang,
demikian dia disapa, adalah CEO dari Elang Grup. Sebuah induk perusahaan
dari tiga anak perusahaan yakni PT Elang Semestaguna, PT Bild
Consulting,dan PTPT. ENZ Human Capital.
Apakah Anda seorang milyader selanjutnya..!! hanya anda yg bisa menjawab.
Apakah Anda seorang milyader selanjutnya..!! hanya anda yg bisa menjawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar